Senin, 28 Maret 2016


TABE, IZINKAN KAMI LEWAT DENGAN SELAMAT 

                 OLEH : ONA MARIANI

                Sebagai mahasiswa yang datang dari daerah, tentu kita mempunyai ekspetasi    yang lebih terhadap kota tempat dimana kita melanjutkan study, mulai dari fasilitas umum, pendidikan, kesehatan hingga keselamatan. Makassar, merupakan salah satu kota besar di InIdonesia yang telah diwacanakan sedang menjalani beberapa  program untuk menjadi salah satu “Kota Dunia”, yang tentu sekarang ini sedang berbenah diri bagi segi infrastruktur maupun suprastruktur. Hal ini sudah barang tentu akan menarik perhatian berbagai kalangan, untuk turut serta dalam menjadikannya sebagai kota yang layak huni.

             Seperti yang diungkapkan oleh staf ahli bidang perekonimian pemerintah kota Makassar, Abdul Majid Sallatu di ruang pola kantor walikota Makassar saat memaparkan hasil pertemuan 43 walikota se-dunia dalam World Cities Summit di Singapura yakni, untuk menjadi kota dunia, Makassar harus merevitalisasi perencanaan dan pembangunannya dengan mengambil referensi dari India dan Cina.

            Revitalisasi tersebut harus memperhatikan empat indikator penting, yakni arus manusia , bagaimana fungsi kota bekerja, geliat bisnis, serta organisasi yang terakomodasi dalam kehidupan perkotaan. Tujuannya adalah untuk mencapai keswimbangan lingkungan serta keharmonisan warga. Dilansir dari Republika.co.id menurut Konsultan Hukukm Bidang Properti Nasional Erwin Kallo SH, MH menilai jika pemerintah keliru mencanangkan Makassar sebagai kota dunia, karena pada dasarnya Makassar telah menyandang predikat kota dunia ketika zaman perjuangan Sultan Hasanuddin pada tahun 1600. Namun kejayaan itu runtuh bersamaan dengan perjanjian Bungaya. Menurutnya, masih banyak hal yang harus dibenahi dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dapat memenuhi kriteria Makassar kembali menjadi kota dunia, setara dengan kota-kora terkenal lainnya di mancanegara.

            Menurutnya, masih banyak hal yang harus dibenahi dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dapat memenuhi kriteria Makassar kembali menjadi kota dunia, setara dengan kota lainnya di Mancanegara.

           Kriteria kota dunia, lanjutnya, bukan hanya dilihat dari sejarah panjang kehadiran sebuah kota, tetapi ketersediaan infrastruktur dan fasilitas kota yang modern dan lengkap yang mana mampu memenuhi keinginan warga kota, wajib dipenuhi untuk mengembalikan kota ini menjadi kota dunia.
Direktur Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia (LAKPI) ini melihat kota- kota bertaraf Internasional memiliki tata ruang yang teratur dan secara konsisten dilaksanakan. Sehingga daya dukung dan infrastruktur tetap terpelihara dengan baik.

            Salah satu elemen yang penting untuk diperbaiki dalam mewujudkan kota dunia adalah sistem transportasi. Ini selain bertujuan untuk menghindari kemacetan yang terus menerus meningkat, yaitu memberi kenyamanan saat berada di jalan, khususnya untuk para pejalan kaki.

         Sebagai salah satu pengguna jalan, para pejalan kaki memiliki hak yang sama dengn para pengguna jalan lainnya, seperti mereka yang memilih untuk menggunakan alat transportasi tertentu untuk menuju suatu tempat.

         Saat ini ketersediaan jaringan pejalan  kaki yang aman, nyaman dan manusiawi di kawasan yang menjadi  pusat kegiatan masyarakat nampaknya belum dapat memenuhi kebutuhan warga, baik dari segi jumlah maupun standar penyediaanya. 

        Hal yang demikian ini, dapat kita saksikan di sepanjang jalan  poros Makassar-Maros yang berhadapan langsung dengan Universitas Hasanuddin Kampus Tamalanrea itu merupakan jalur akses utama untuk masuk ke dalam kampus yang terkenal dengan kontribusinya dalam penyerapan karbon di Sulawesi Selatan karena ditanami dengan tambuhan peneduh semacam Ki hujan.

         Sebagai akses utama menuju tempat pusat kegiatan masyarakat, jalan Perintis Kemerdekan dapat dikatakan belum mampu memenuhi kenyamanan para pengguna jalan. Salah satu penyebabnya adalah tidak berfungsinya Lampu lalu lintas di depan kampus, yang berujung pada kepadatan arus lalu lintas. Hal ini bisa terjadi karena para pengguna jalan yang ingin masuk ke dalam area kampus melalui pintu 1 atau pun pintu 2, harus berdesakan dan memotong arus kendaraan  dari arah barat, tanpa prosedural yang tepat. Bila diamati hal ini tidak hanya menimbulkan kemacetan di depan kampus, namun juga menyulitkan para pengguna jalan lainnya dalam hal ini yakni pejalan kaki untuk menyebrang, karena secara otomatis dalam tempo yang bersamaan zebra cross tak lagi berfungsi sebagai salah satu sarana penyebarangan. Bahkan tak jarang, di saat kondisi jalan raya yang ramai lancar,  dengan modal mengipaskan tangan ke samping para pejalan kaki dapat menyebrang begitu saja. Padahal bila dilihat, hal ini tentu sangat mengancam nyawa bagi para pejalab kaki sendiri, karena kurangnya wadah serta disfungsi sarana penyebrangan.

           Menurut penuturan Guntur Prasetyo seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin yang menjadi salah satu pengguna jalan Perintis Kemerdekaan, memang sudah seharusnya pemerintah kota Makassar memperhatikan hal yang demikian ini, jangan sampai menunggu jatuhnya korban jiwa baru membahas regulasi. 

            Kembali menanggapi pernyataan Erwin Kallo SH, MH selaku Konsultan Hukum Bidang Properti Nasional untuk mengembalikan predikat kota dunia, Pemerintah kota Makassar perlu membenahi ketersedian infrastruktur maupun suprastruktur kota yang nantinya benar-benar mampu melayani masyarakat hingga lapisan dasar. Salah satunya adalah perbaikan fasilitas jalan raya, mengingat ini adalah salah satu akses kegiatan masyarakat baik dalam bidang pendidikan maupun ekonomi sendiri, dimana keduanya adalah prasyarat untuk memenuhi kota berstandart Internasional. Selain itu sosialisasi mengenai kesadaran tertib berlalu lintas memang perlu dilakukan, agar  nantinya semunya dapat bersinergi dengan baik, jangan sampai semua fasilitas umum yang telah dikondisikian dengan sedemikian rupa tak mampu membantu karena minimnya kesadaran masyarakat sendiri dalam berlalu lintas.

referensi:
Artikel 
www.makassar-kota-dunia.com
Antaranews.com
www.lalu-lintas-Indonesia.



        




HARI TUHAN..........

 Andai saja aku tak mendengar instrumental yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali malam ini, mungkin saja aku benar-benar melupakannya. Ya,hariku juga Tuhan. Ibu selalu bertanya mengapa aku sering menyebut hari ini sebagai hariku dengan Tuhan, alasanya sederhana saja, ketika aku cukup mengerti jika rambut putih dan garis-garis halus yang mulai muncul di permukaan kulit wanita yang menjadi pembaca pertamaku itu perlaham menghapus ingatannya tentang peristiwa berharga 21 tahun lalu, setidaknya aku bisa merayakannya dalam permintaanku pada-Nya hari ini.
Peristiwa yang benar-benar telah membuatnya  merasa dinobatkan sebagai seorang perempuan seutuhnya. Kata ibu seorang perempuan benar-benar akan merasaknnya ketika ia berhasil menyerahkan rahimnya pada Tuhan untuk calon-calon ruh dan jasad baru. Sempat aku berfikir jika alasan itu hanya dijadikannya sebagai dongeng penghibur untuk putri semata wayangnya yang takut jika suatu saat nanti ia harus merasakan hal yang sama sepertinya.

21 tahun,

Tak kusangkan hampir seperempat abad Tuhan mengizinkanku menghirup oksigen gratis di rumah yang katanya tak lagi baik-baik saja itu, yang terus terang saja setiap saat membuat hatiku getar-getir mencari batas waktu akhirnya. Namun tenang saja aku takkan mengajakmu mencari jawaban dari rahasia alam satu itu.
Hari ini aku hanya ingin bercerita tentang hariku juga Tuhan. Setidaknya kali ini aku sepakat dengan satu makhluk Tuhan yang tengah belajar abadi itu, jika adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun terbaik. Meskipun aku tak membenarkan hal itu seratus persen, karena aku belum berjalan sejauh itu.

21 tahun,

Seusai  ini apa lagi? 
Kalimat sederahana yang menghantarkanku membuka mata hari ini. Terus terang pagi ini aku mengadakan kompetisi kecil dengan matahari pagi, tentang siapa yang akan menjadi penyapa dunia pertama kali. Dan kau tahu, akulah pemenangnya, karena semalam aku berbisik pada-Nya untuk menidurkan matahari lebih lama dari biasanya.

21 tahun,
Cinta,
Aku tak tahu  sampai kapan satu kata yang terdiri dari lima huruf itu  menjadi topik terhangat sepanjang peradaban. Kata yang mungkin telah banyak di-copy sepasang juta hati di dunia hingga kita tak tahu mana versi aslinya. Bahkan aku sempat berfikir jika versi KW-nya telah marak beredar. Dan aku takkan melarikan diri jika ada yang menuduh bahwa hingga kini tema kata itu tetap menjadi andalan dalam setiap dongeng-dongen kecil yang kutitipkan pada penerbit untuk memperlakukan dengan baik.

21 tahun,
Dongeng,
Aku tak tahu berapa dongeng yang telah kutulis, meskipun ujung-ujungnya mereka hanya berakhir di tangan pembaca pertamaku, tak untuk kedua, ketiga atau ke yang berikutnya. Karena rasanya lebih dari cukup ketika ia telah memberikan penilaiannya di setiap karya kecilku. 

21 tahun,
Tokoh utama,
Entah mengapa setelah menceritakan setiap kisah mereka padamu, aku baru benar-benar merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Pada Nadia yang selalu merindukan jari-jari Panji, pada Panji yang selalu hidup dalam setiap dongeng gadisnya, atau pada Gayatri yang akan tetap menjadi Dewi Sinta untuk meyakinkan Dimas titisan Sri Rama. Jujur saja aku lebih bahagia jika membunuh semua tokohku di akhir cerita, karena aku harap mereka tak akan menceritakan kisah yang sebenarnya seperti apa pada dunia.

21 tahun,
Hari Tuhan,
Ini kali ke-tujuh aku menyebut kalimat itu ketika hari ulang tahunku tiba. Tak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini pada mereka menganggap keberadaan diriku. Nun aku mempunyai waktu tersendiri untuk menghadirkan mereka semua. Memang takkan mudah untuk bermain petak umpet semacam ini tentang hari yang kembali memperingatkan diri ini yang tak lagi muda, namun sekali lagi keheningan itu akan membuat segalanya menjadi terlihat jelas.

21 tahun,
Merindu  seorang diri,
Sampai hari ini aku tak benar-benar menyerahkan segalanya pada mereka yang kucintai, namun terkecuali dengan sesuatu yang pantas untukku bagi dengan mereka yang cukup mengerti. Ada yang berkata jika mengeluh berarti menunjukkan kelemahan diri pada dunia, namun setidaknya dengan seperti itu dunia dapat membantuku mengusaikan segalanya. Kali ini aku tak berharap banyak kecuali dapat membaca-Nya dengan baik, melihat dunia dari kedua mata-Nya yang kata orang lebih dekat dari urat nadi sendiri. 
21 tahun,

Lekas menjadi sepantas-pantasnya pribadi