Senin, 28 Maret 2016
HARI TUHAN..........
Andai saja aku tak mendengar instrumental yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali malam ini, mungkin saja aku benar-benar melupakannya. Ya,hariku juga Tuhan. Ibu selalu bertanya mengapa aku sering menyebut hari ini sebagai hariku dengan Tuhan, alasanya sederhana saja, ketika aku cukup mengerti jika rambut putih dan garis-garis halus yang mulai muncul di permukaan kulit wanita yang menjadi pembaca pertamaku itu perlaham menghapus ingatannya tentang peristiwa berharga 21 tahun lalu, setidaknya aku bisa merayakannya dalam permintaanku pada-Nya hari ini.
Peristiwa yang benar-benar telah membuatnya merasa dinobatkan sebagai seorang perempuan seutuhnya. Kata ibu seorang perempuan benar-benar akan merasaknnya ketika ia berhasil menyerahkan rahimnya pada Tuhan untuk calon-calon ruh dan jasad baru. Sempat aku berfikir jika alasan itu hanya dijadikannya sebagai dongeng penghibur untuk putri semata wayangnya yang takut jika suatu saat nanti ia harus merasakan hal yang sama sepertinya.
21 tahun,
Tak kusangkan hampir seperempat abad Tuhan mengizinkanku menghirup oksigen gratis di rumah yang katanya tak lagi baik-baik saja itu, yang terus terang saja setiap saat membuat hatiku getar-getir mencari batas waktu akhirnya. Namun tenang saja aku takkan mengajakmu mencari jawaban dari rahasia alam satu itu.
Hari ini aku hanya ingin bercerita tentang hariku juga Tuhan. Setidaknya kali ini aku sepakat dengan satu makhluk Tuhan yang tengah belajar abadi itu, jika adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun terbaik. Meskipun aku tak membenarkan hal itu seratus persen, karena aku belum berjalan sejauh itu.
21 tahun,
Seusai ini apa lagi?
Kalimat sederahana yang menghantarkanku membuka mata hari ini. Terus terang pagi ini aku mengadakan kompetisi kecil dengan matahari pagi, tentang siapa yang akan menjadi penyapa dunia pertama kali. Dan kau tahu, akulah pemenangnya, karena semalam aku berbisik pada-Nya untuk menidurkan matahari lebih lama dari biasanya.
21 tahun,
Cinta,
Aku tak tahu sampai kapan satu kata yang terdiri dari lima huruf itu menjadi topik terhangat sepanjang peradaban. Kata yang mungkin telah banyak di-copy sepasang juta hati di dunia hingga kita tak tahu mana versi aslinya. Bahkan aku sempat berfikir jika versi KW-nya telah marak beredar. Dan aku takkan melarikan diri jika ada yang menuduh bahwa hingga kini tema kata itu tetap menjadi andalan dalam setiap dongeng-dongen kecil yang kutitipkan pada penerbit untuk memperlakukan dengan baik.
21 tahun,
Dongeng,
Aku tak tahu berapa dongeng yang telah kutulis, meskipun ujung-ujungnya mereka hanya berakhir di tangan pembaca pertamaku, tak untuk kedua, ketiga atau ke yang berikutnya. Karena rasanya lebih dari cukup ketika ia telah memberikan penilaiannya di setiap karya kecilku.
21 tahun,
Tokoh utama,
Entah mengapa setelah menceritakan setiap kisah mereka padamu, aku baru benar-benar merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Pada Nadia yang selalu merindukan jari-jari Panji, pada Panji yang selalu hidup dalam setiap dongeng gadisnya, atau pada Gayatri yang akan tetap menjadi Dewi Sinta untuk meyakinkan Dimas titisan Sri Rama. Jujur saja aku lebih bahagia jika membunuh semua tokohku di akhir cerita, karena aku harap mereka tak akan menceritakan kisah yang sebenarnya seperti apa pada dunia.
21 tahun,
Hari Tuhan,
Ini kali ke-tujuh aku menyebut kalimat itu ketika hari ulang tahunku tiba. Tak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini pada mereka menganggap keberadaan diriku. Nun aku mempunyai waktu tersendiri untuk menghadirkan mereka semua. Memang takkan mudah untuk bermain petak umpet semacam ini tentang hari yang kembali memperingatkan diri ini yang tak lagi muda, namun sekali lagi keheningan itu akan membuat segalanya menjadi terlihat jelas.
21 tahun,
Merindu seorang diri,
Sampai hari ini aku tak benar-benar menyerahkan segalanya pada mereka yang kucintai, namun terkecuali dengan sesuatu yang pantas untukku bagi dengan mereka yang cukup mengerti. Ada yang berkata jika mengeluh berarti menunjukkan kelemahan diri pada dunia, namun setidaknya dengan seperti itu dunia dapat membantuku mengusaikan segalanya. Kali ini aku tak berharap banyak kecuali dapat membaca-Nya dengan baik, melihat dunia dari kedua mata-Nya yang kata orang lebih dekat dari urat nadi sendiri.
21 tahun,
Lekas menjadi sepantas-pantasnya pribadi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar